Senin, 10 Juli 2017

REVIEW JURNAL "ANALISIS KERUGIAN DAYA PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 KV DI P.T. PLN (Persero) PENYALURAN & PUSAT PENGATURAN BEBAN (P3B) JAWA BALI REGIONAL JAWA TENGAH & DIY UNIT PELAYANAN TRANSMISI SEMARANG

Angga Ardhya
Teknik Elektro Universitas Gunadarma
Email : angga.agai169@gmail.com

ABSTRAKSI
Di Indonesia, kebutuhan akan daya listrik berbanding lurus dengan perkembangan ekonomi dan industri yang semakin berkembang. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih baik dalam memberikan pelayanan listrik dengan SUTET 500 kV. Dalam pendistribusian daya listrik dari generator ke beban pusat  menggunakan jalur transmisi, karena jarak dari generator ke beban pusat sangat jauh. Daya listrik yang mengalir mempunyai rugi-rugi daya. Itu disebabkan oleh factor kebocoran isolasi dan kebocoran korona mengakibatkan voltase akan menurun (jatuh tegangan) dan untuk efisiensi transmisi akan menurun juga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung rugi-rugi daya di SUTET 500 kV. Perhitungan ini sudah dilakukan tiga kali dalam waktu berbeda di SUTET Ungaran – Pedan pada 15- 24 agustus 2007 pukul 07.00 pagi , 13.00 siang, dan 18.00 sore. Hasil dari perhitungan pada hari rabu 15 agustus 2007 pukul 18.00 sore, memiliki nilai rugi-rugi daya yang sangat besar yaitu 6.179.710,62 Watt dan rugi-rugi daya yang sangat kecil ketika selesai pada hari rabu 15 agustus 2007 pukul 07.00 pagi dan hari rabu 22 agustus 2007 pukul 07.00 pagi, sebesar 2.816.691,632 Watt. SUTET 500 kV Ungaran – Pedan nilai efisiensinya dalam kondisi bagus karena nilai  rata-ratanya sekitar 100%. Namun, ada kekurangan dari hasil karena perhitungan hanya dilakukan dalam sepuluh hari. Cara terbaik untuk mengurangi kekurangan itu adalah dengan melakukan perhitungan secara terus menerus.
Kata kunci : Rugi-rugi Daya, Jatuh Tegangan, Korona



I.             PENDAHULUAN
Dalam menghadapi permintaan akan kebutuhan tenaga listrik yang terus meningkat sesuai laju pertumbuhan ekonomi dan industri serta pertambahan penduduk, semua sector pembangunan diarahkan untuk mampu menghadapi era industrialisasi. Berbagai investasi dalam bidang industri saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah. Untuk mengatasi kebutuhan tenaga listrik  untuk industri tersebut, pihak pemerintah juga sudah memikirkannya. Oleh sebab itu, ketersediaan energy listrik yang cukup dan berkualitas merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh PLN.
Berdasarkan dari hal diatas maka penulis mencoba melakukan studi tentang kerugian daya yang terjadi pada SUTET single circuit Ungaran – Pedan, sehingga dapat memberi gambaran kerugian yang terjadi pada SUTET dengan cara perhitungan besar rugi daya pada SUTET, sehingga nantinya dapat berguna dalam sistem transmisi tenaga listrik terutama pada SUTET.

Permasalahan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
i.                 Besar jatuh tegangan yang terjadi pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
ii.               Besar kerugian daya yang terjadi pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
iii.             Besar korona yang terjadi pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
iv.             Besar efisiensi SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.

Adapun tujuan penelitian sebagai berikut :
a.       Mengetahui jatuh tegangan pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
b.      Mengetahui kerugian daya pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
c.       Mengetahui besar rugi korona pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
d.      Mengetahui efisiensi SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.

II.          LANDASAN TEORI
2.1. Umum
Menaikkan daya guna saluran transmisi adalah dengan menaikkan tegangan setinggi – tinggi mungkin.  Batas ketinggian tegangan transmisi pada masing – masing negara berbeda - beda tergantung pada kemajuan teknologi tenaga listrik di negara – negara tersebut. Transmisi tegangan tinggi Indonesia pada saat ini adalah tegangan 70 kV dan 150 kV, sedangkan untuk transmisi tegangan ekstra tinggi menerapkan tegangan 500 kV.
 Ada dua kategori saluran transmisi, yaitu saluran udara (overhead line) dan saluran bawah tanah (underground). Saluran udara menyalurkan tenaga listrik melalui kawat – kawat yang digantung pada tiang – tiang transmisi dengan perantara isolator – isolator, sedang saluran bawah tanah menyalurkan listrik melalui kabel – kabel bawah tanah. Kedua saluran ini mempunyai keuntungan dan kerugian, dibandingkan dengan saluran udara, saluran bawah tanah tidak terpengaruh cuaca buruk dan saluran bawah tanah lebih estetis karena tidak tampak. Saluran bawah tanah lebih disukai di Indonesia terutama untuk kota – kota besar, tetapi biaya pembangunannya lebih mahal dibandingkan dengan saluran udara dan perbaikannya lebih sukar jika terjadi hubung singkat.
Peningkatan tegangan pada saluran transmisi mempunyai nilai ekonomis yang sangat penting, keuntungannya sebagai berikut:
a)      Penyaluran daya yang sama arus yang dialirkan menjadi berkurang, ini berarti penggunaan bahan tembaga pada kawat penghantar akan berkurang dengan bertambah tingginya tegangan transmisi.
b)      Luas penampang konduktor yang digunakan berkurang karena itu struktur penyangga konduktor lebih kecil.
c)      Arus yang mengalir di saluran transmisi menjadi lebih kecil maka jatuh tegangan juga menjadi kecil. Tegangan transmisi yang semakin besar maka jarak bebas antar kawat penghantar harus lebih lebar. Panjang gandengan isolator harus lebih besar dan berarti meningkatkan biaya menara dan konstruksi penopang.
1. Resistan
Nilai resistan saluran transmisi dipengaruhi oleh resitivitas konduktor dan temperature. Resistan (R) dari sebuah penghantar sebanding dengan panjang l dan berbanding terbalik dengan luas penampangnya.

                                             (2.2)
(William D. Stevenson, 1990 : 39)
dengan :
ρ = Resitivitasnya (_)
R = Resistan arus searah (_m)
l = Panjang Konduktor (m)
A = Luas Penampang (m²)
2. Induktan Saluran
Induktan kawat tiga fasa umumnya berlainan untuk masing – masing kawat. Namun karena perbedaannya kecil nilai induktannya dari penghantar yang ditransposisikan yang diambil, bila ketidakseimbangannya tidak besar. Susunan kawat seperti tertera pada gambar 2.1. reaktan induktif urutan positif (positive sequence inductive reactance) dari saluran yang ditransposisikan dinyatakan oleh W. A. Lewis sebagai XL

(Arismunandar dan Kuwahara, 1993 : 53)
dengan :
f = Frekuensi
GMD = Geometric mean distance = 
GMR = Geometric mean radius = 

K = Konstanta
Induktannya dapat dihitung :

L = l + 0,4605 log10
(Arismunandar dan Kuwahara,1993 : 53)
dengan :
l = Induktansi karena fluks magnet dalam kawat = 0,05 untuk kawat dengan penampang bulat (μ = 1)

3. GMR, GMD
Radius rata-rata geometris (GMR) dari suatu luas ialah limit dari jarak rata-rata geometris (GMD) antara pasangan elemen dalam suatu luas itu sendiri bila jumlah elemen itu diperbesar sampai tak terhingga.
a. Teori GUYE
Pada suatu lingkaran dengan radius r terdapat n titik yang jaraknya satu sama lain sama besar maka GMD antara titiktitik adalah :
GMD = rn−1 Ön
Jarak-jarak bersama antara pasangan-pasangan titik itu adalah sama dengan n x (n-1) jarak-jarak, dan hasil perkalian dari semua jark-jarak itu adalah sama dengan pangkat n(n - 1) dari GMD-nya.
b. GMD dari suatu titik terhadap lingkaran adalah jarak dari titik itu terhadap pusat lingkaran.
c. GMD dari dua lingkaran dengan jarak titik-titik pusatnya d12 adalah d12.
4. Kapasitan Saluran
Kapasitan adalah kemampuan dua konduktor yang dipisahkan oleh isolator untuk menyimpan muatan listrik pada tegangan yang diberikan diantara keduanya. Bila pada dua konduktor yang terpisah oleh jarak tertentu dialirkan arus listrik maka akan terbentuk fluks elektrostatik dan dua konduktor tersebut berfungsi sebagai kapasitor. Nilai kapasitasnya semata-mata tergantung dari jari-jari konduktor dan jarak antara kedua konduktor tersebut serta tidak dipengaruhi oleh besarnya medan magnet. Rumus untuk menentukan kapasitas saluran adalah :

(Arismunandar dan Kuwahara, 1993: 55)
dengan :
C = kapasitas
GMD = geometri mean distance (cm)
r = jari-jari penghantar
5. Jatuh Tegangan
Jatuh tegangan pada saluran transmisi adalah selisih antara tegangan pada pangkal pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan (receiving end) tenaga listrik. Pada saluran bolak balik besarnya tergantung pada impedan dan admitansi saluran serta pada beban dan faktor daya. Jatuh tegangan relative dinamakan regulasi tegangan (voltage regulation), dan dinyatakan oleh rumus:

(Arismunandar dan Kuwahara, 1993 : 2)
dengan :
s V = Tegangan pada pangkal pengiriman
r V = Tegangan pada ujung penerimaan

6. Hilang Daya Dan Daya Guna Transmisi
Hilang daya atau rugi daya utama pada saluran transmisi adalah hilangdaya resistan pada penghantar. Disamping itu ada hilang daya korona dan hilang daya karena kebocoran isolator terutama pada saluran tegangan tinggi. Pada saluran bawah tanah ada hilang daya elektrik dan hilang daya pada saluran kabel (sheath). Hilang daya resistan untuk saluran tiga fasa tiga kawat untuk saluran transmisi yang pendek dinyatakan oleh persamaan:
P1 = 3I2Rl
(Arismunandar dan Kuwahara, 1993 : 3)
Hilang Korona

(Arismunandar dan Kuwahara, 1993:57)
dengan:
E’go = 21,1 kV/cm
A = 0,448 untuk kawat padat dan 0,375 untuk kawat lilitan
f = frekuensi sumber tenaga (Hz)
r = jari-jari penghantar (cm)
m = mo x m1
mo = faktor permukaan kawat, untuk kawat lilitan = 0,83 – 0,87
mI = faktor udara, untuk udara baik 1,0 dan untuk hujan 0,8
δ = kepadatan udara relative =

D = jarak ekivalen antar kawat (cm)
7. Karakteristik Penyaluran Daya
Tenaga listrik disalurkan melalui jaringan transmisi dari pusat pembangkit yang disebut pangkal pengiriman menuju pusat-pusat beban yang disebut ujung penerimaan. Meskipun tenaga listrik disalurkan dengan sistem tiga fasa tetapi semua perhitungan dilakukan berdasarkan hubungan satu fasa sistem bintang. Dalam mempelajari karakteristik penyaluran daya yang meliputi variabel-variabel tegangan, arus, dan hilang daya dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yang berbeda yaitu:
a.       Rangkaian yang parameter atau konstankonstannya dikonsentrasikan (lumped), pendekatan ini digunakan untuk analisis saluran transmisi jarak pendek.
b.      Rangkaian yang parameter atau konstankonstannya didistribusikan sepanjang saluran transmisi.
Beberapa perhitungan penting untuk analisis sistem transmisi adalah:
a.       Menghitung perbedaan besaran antara tegangan pada pangkal pengiriman (Vs) dengan tegangan pada ujung penerimaan (Vr).
b.      Menghitung faktor daya pada pangkal pengiriman dan ujung penerimaan.
c.       Menghitung daya guna transmisi (daya keluar/ daya masuk)
8. Konduktor Berkas
Tegangan ekstra tinggi yaitu tegangan diatas 230 kV, korona dengan akibatnya yaitu berupa rugi daya dan terutama timbulnyainterferensi dengan saluran komunikasi akanmenjadi sangat berlebihan jika rangkaiannya hanya mempunyai sebuah komunikasi dan hanya mempunyai sebuah penghantar perfasa. Dengan menggunakan dua penghantar atau lebih perfasa yang disusunberdekatan dibandingkan dengan jarak pemisah antara fasa-fasanya, maka gradient tegangan tinggi pada penghantar dalam daerah EHV dapat banyak dikurangi. Saluransemacam ini dikatakan sebagai tersusun dari penghantar berkas (bundled conductors).Berkas ini dapat terdiri dari dua, tiga, atau empat penghantar. Berkas tiga penghantar biasanya menempatkan penghantarpenghantarnya pada sudut-sudut suatu segi tiga sama sisi dan berkas empat penghantar menempatkan penghantar-penghantarnya pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. Arus tidak akan terbagi rata dengan tepat antara penghantar-penghantar dalam berkas jika tidak dilakukan transposisi penghantarpenghantar dalam berkas tetapi perbedaannya tidak begitu penting dalam praktek, metode GMD sudah cukup telitiuntuk perhitungan-perhitungan. Keuntungan lain yang sama pentingnya yang diperoleh dari pemberkasan ialah penurunan reaktan. Peningkatan jumla penghantar dalam suatu berkas mengurangi efek korona dan mengurangi efek reaktan. Pengurangan reaktan disebabkan oleh kenaikan GMR berkas yang bersangkutan. Perhitungan GMR sudah tentu tepat sama dengan perhitungan untuk penghantarberupa lilitan. Masing-masing penghantar pada berkas dua penghantar misalnya dapat diperlakukan sebagai sebuah serat atau lilitan suatu penghantar dua lilitan.
2.2. Kerangka Berfikir
Saluran transmisi tegangan ekstra tinggi banyak mengalami kerugian daya yang diakibatkan oleh beberapa faktor misalnya kerugian daya yang diakibatkan oleh korona atau residen penghantarnya sehingga mengakibatkan tegangan mengalami penurunan, tegangan pada pangkal pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan (receiving end) mengalami perbedaan nilainya, karena sebagian daya yang ada hilang yang diakibatkan oleh factor – faktor diatas. Dalam skripsi ini akan dicari kerugian daya yang terjadi pada saluran transmisi tegangan ekstra tinggi dengan cara menghitung reistan total, reaktan saluran, impedan, faktor daya, besar tegangan pada pangkal pengiriman, besar tegangan pada ujung penerimaan, rugi daya, daya pengiriman serta efisiensi transmisi

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi : P.T. PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa Bali Regional Jawa Tengah dan DIY Unit Pelayanan Transmisi Semarang. Waktu : 15 Agustus – 24 Agustus 2007
3.2. Jenis Penelitian
Dalam menyusun suatu penelitian diperlukan langkah-langkah yang benar sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Observasi yang dilakukan adalah dengan pengambilan data dilapangan..
3.3. Populasi
Populasi adalah seluruh obyek yang dimaksudkan untuk diselidiki, dimana obyek tersebut setidak-tidaknya memiliki satu kesamaan sifat. Populasi dalam penelitian ini adalah Kerugian Daya Pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
3.4. Sampel
Sampel merupakan sebagian dari seluruh populasi yang ingin mewakili seluruh populasi. Syarat umum pengambilan sample adalah representatif, dimana sampel yang diambil menggambarkan keadaan sebenarnya dari populasi yang ada. Teknik sampling dalam penelitian in merupakan gabungan dari :
1. Purposive Sampling
Dalam purposive sampling pemilihan sekelompok obyek penelitian atau sampel didasarkan pada ciri-ciri atau tujuan tertentu yang dipandang mempunya sangkut paut yang erat dengan ciriciridari populasi yang diketahui sebelumnya. Adapun pemilihan sampel purposive sampling didasarkan sampel yang dipilih mempunyai latar belakang dalam kondisi yang sama.
2. Random Sampling
Dalam random sampling yang baik secara individu maupun secara bersama-sama setiap populasi diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Jadi teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling.
3.5. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 1992 : 99). Dalam penelitian ini yang menjadi obyek atau variable penelitiannya adalah pengamatan terhadap rugi daya pada saluran transmisi tegangan ekstra tinggi.
3.6. Sumber Data
Data-data yang diperlukan dalam proses pembuatan laporan ini diperoleh dari:
1. Observasi
Penulis mengamati secara langsung ditempat operator dan mencatat data-data yang diperlukan untuk dianalisa.
2. Wawancara
Metode ini dilakukan dengan cara menanyakan hal-hal yang sekiraya belum penulis ketahui kepada pembimbing lapangan.
3. Studi Pustaka
Metode ini dilakukan dengan membaca buku-buku dan mencari data yang diperlukan mengenai halhal atau materi yang dianalisa.
4. Bimbingan
Metode ini dilakukan dengan cara meminta bimbingan untuk hal yang berkaitan dengan analisa dari penelitian ini dari pembimbing, baik dosen maupun dilapangan.
3.7. Teknik Analisis Data
Analisa data merupakan salah satu langkah penting dalam penelitian, terutama bila digunakan sebagai generalisasi atau simpulan tentang masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini bersifat deskriptif maka analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif percentase. Analisis data ini digunakan untuk deskripsi atau pembahasan hasil penelitian berupa data kuantitatif sehingga akan diperole gambaran kualitatif dari hasil penelitian.
3.8. Analisis Perhitungan Daya
Menghitung kerugian daya yang terjadi pada penghantar harus dicari dulu nilai resistannya. Rumus yang digunakan utnuk mencari resistan adalah menggunakan persamaan (2.2) sebagai berikut :
Nilai reaktan dapat dicari setelah nilai resistannya diketahui, untuk menghitung nilai reaktan adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(William D Stevenson, 1990 : 59)
Nilai GMD (Geometric Mean Distance atau jarak rata-rata geometris) dan nilai GMR (Geometric Mean Radius atau radius ratarata geometris), dapat dicari dengan menggunakan rumus dibawah ini :
(Hutauruk, 1985 : 45)
untuk menghitung GMR adalah menggunakan persamaan (2.30) sebagai berikut.
Saluran transmisi Ungaran – Pedan adalah merupakan saluran transmisi jarak pendek yaitu kurang dari 80 km, sehingga untuk mencari impedannya menggunakan persamaan (2.17) sebagai berikut :
Z = R + jX
Data-data hasil perhitungan diatas digunakan untuk menghitung besar tegangan pada ujung beban dan tegangan pengiriman, besar jatuh tegangan, rugi daya pada kawat penghantar, daya pengiriman serta efisiensi transmisi. Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.       Mencari faktor daya :

Dan
(William D Stevenson, 1990 : 17)
dengan :
 P = Daya aktif (Watt)
S = Daya semu (Watt)
Q = Daya rekatif (VAR)
cos φ = Faktor daya
b.      Menghitung besar tegangan pada ujung beban adalah :

(Hutauruk, 1985 : 64)
dengan
Vr = Tegangan penerimaan (Volt)
Vrline = Tegangan kerja (Volt)
c.       Mencari tegangan pengiriman adalah :

(Hutauruk, 1985 : 64)
dengan
Vs = Tegangan pengiriman
Vr = Tegangan penerimaan
I = Arus (Ampere)
Z = Impedan (Ohm)
d.      Mencari besar jatuh tegangan adalah :

(Arismunandar dan Kuwahara, 1993 : 2)
Dengan
 Vs = Tegangan pengiriman
Vr = Tegangan penerimaan
e.       Mencari rugi daya pada kawat penghantar menggunakan persamaan (2.11) sebagai berikut :
P resistan = 3. I2. R
f.        Mencari rugi korona menggunakan persamaan (2.13) sebagai berikut :

Dengan
 f = frekuensi (Hz)
0 'g E = 21,1 kV/cm
A = 0,448 untuk kawat padat dan
0,375 untuk kawat lilit
m = m0 . m1
δ = Kepadatan udara relatif
r = jari-jari penghantar
g E = Gradien tegangan
g.      Rugi daya total
Prugi = P resistan + P korona


h.      Mencari daya pengiriman adalah :
Ps = Pr + Prugi
(Arismunandar dan Kuwahara, 1993 : 62)
dengan
Ps = Daya pengiriman
Pr = Daya penerimaan
Prugi = Rugi daya pada kawat penghantar (Watt)
i.        Mencari efisiensi transmisi dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.

IV. HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
1.1  Data-Data Dari Saluran Transmisi Yang Melalui Daerah Ungaran-Pedan Tanggal 15 Agustus 2007 Jam 07.00
R (resistan per fasa): 0,0880 ohm/km
D (jarak antar saluran): 11 m
l (panjang saluran) : 75,31 km
A(luas penampang) : 327,94mm2
Pr (daya penerimaan) : 140 MW
Q (daya rekatif) : 160 MVAR
Vrline : 517 KV
I (arus line) : 267 A
D (Jarak ekivalen antar kawat) : 1100 cm
b (Tekanan udara): mbar = 758,31 mmHg
t (Suhu udara)       

r (Jari-jari kawat satu konduktor) : 1,02 cm
f (Frekuensi sumber tenaga): 60 Hz
E (Tegangan fasa) : 517 KV
Faktor udara m1 adalah 1,0 untuk udara baik dan 0,8 untuk hujan. Faktor permukaan kawat m0 untuk kondisi permukaan kawat halus adalah 1,0 untuk kawat lilit adalah 0,83 – 0,87.

4.2 Analisis Rugi Daya
a.       Resistan total :
            Rtotal = R x l
= 0,0880 x 75,31
= 6,6272 ohm
b.       Mencari nilai reaktan adalah tetapi harus dicari lebih dahulu nilai GMD dan mencari nilai GMR.
e.       GMR = penghantar yang digunakan adalah jenis DOVE jadi Ds = 0,0314 kaki, untuk mengubahnya jadi meter maka harus dikalikan dengan 0,3048.

f.       
g.     

h.      Xtotal = 0,308 x 75,31
=23,1954 0hm
i.        Impedan Pada saluran transmisi Ungaran – Pedan adalah merupakan saluran transmisi jarak pendek yaitu kurang dari 80 km sehingga pengaruh kapasitansinya sangat kecil dan bisa diabaikan, nilai impedannya adalah sebagai berikut.

j.        Mencari faktor daya adalah dengan cara sebagai berikut.
Pr = 140 Mwatt
Q = 160 MVAR


Jadi

k.      Besar tegangan kerja adalah 517.000 Volt sehingga tegangan penerimaan atau tegangan pada ujung beban dapat dihitung

l.        Mencari tegangan pengiriman
Vs = Vr + IZ
= 298.490,0891 + 267 x 24,1235
= 304.931,0636 Volt
m.    Mencari besarnya jatuh tegangan

n.      Rugi daya pada kawat penghantar dapat dicari seperti dibawah ini
o.      Presistansi = 3. I2. R
=3 x 2672 x 6,6272 = 1.417.339,382 Watt
p.      Rugi Korona
Kepadatan udara relative

Gradient tegangan pada permukaan kawat untuk saluran transmisi 3 fasa.

Rugi korona

dengan :
0 'g E = 21,1 kV/cm
A = 0,448 untuk kawat padat dan 0,375 untuk kawat lilit
m = m0 . m1
= 0,83 x 1,0
= 0,83
q.     

Rugi korona total
Ptotal = P x l
= 18.582,36338 x 75,31
= 1.399.437,786 Watt
r.        Prugi = P resistan + P korona
= 1.417.339,382 + 1.399.437,786
= 2.756.777,168 Watt
s.       Daya pengiriman dapat dicari dengan) seperti dibawah ini.
Ps = Pr + Prugi
= 140.000.000 + 2.756.777,168
= 142.756.777,168 Watt
t.         Efisiensi transmisi dapat dicari seperti dibawah ini.

Jatuh tegangan yang terjadi pada jam 07.00 WIB masih dikatakan kecil karena hanya 2,16 %. Hal ini disebabkan karena jarak saluran pendek yaitu 75,31 km, sehingga besar resistan pada kawat penghantar tidak begitu besar. Sedangkan efisiensi transmisi hampir mendekati 100 % yaitu 98,07 %, artinya kerugian daya yang terjadi yaitu sebesar 2.756.777,168 Watt masih dalam batas normal dan semua ini dipengaruhi oleh besarnya arus dan resistan kawat penghantar yang tidak begitu besar.
Kerugian korona dalam persen dari rugi daya.

Kerugian korona yang terjadi pada Rabu, 15 Agustus 2007 jam 07.00 adalah 1.399.437,786 Watt sedangkan kerugian daya yang terjadi adalah sebesar 2.756.777,168 Watt sehingga kerugian daya yang diakibatkan oleh faktor korona adalah 50,76 %. Sedangkan sisanya adalah kerugian yang diakibatkan oleh faktor lain misalnya rugi yang diakibatkan oleh penghantar, factor alam, kekotoran isolator, dll.
Perhitungan dilakukan sampai tanggal 24 Agustus 2007 pada 3 waktu tertentu, yaitu pada jam 07.00, 13.00 dan jam 18.00.


V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Jatuh tegangan yang terjadi pada SUTET Ungaran – Pedan masih sangat kecil, karena masih dibawah standarnya yaitu maksimal 5% untuk batas atas dan  maksimal 10% untuk batas bawah.jatuh tegangan pada hari rabu, 15 agustus 2007 jam 13.oo sebesar 3,68% dan pada hari jumat, 17 agustus 2007 jam 07.00 sebesar 1,64%.
2.      Kerugian daya pada penghantarnya untuk SUTET 500 kV Ungaran – Pedan masih sangat kecil, jadi alat dan bahannya masih sangat baik. Kerugian daya terbesar pada hari rabu, 15 agustus 2007 jam 18.00 sebesar 6.179.710,62 Watt dan kerugian daya terkecil pada hari rabu, 15 agustus 2007 jam 07.00 sebesar 2.756.777,168 Watt.
3.      Kerugian korona paling besar terjadi pada hari selasa, 21 agustus 2007 dan hari jumat 24 agustus 2007 sebesar 1.440.538,31Watt, dan rugi korona terkecil pada hari jumat 17 agustus 2007 jam 07.00 sebesar 1.363.910,815 Watt.
4.      Nilai efisiensi SUTET 500 kV Ungaran – Pedan masih sangat baik yaitu mendekati 100%.

5.2. Saran
Saran yang dapat diberikan penulis untuk penelitian SUTET 500 kV adalah sebagai berikut:
·         Dalam meneliti kerugian daya pada SUTET 500 kV sebaiknya pengambilan datanya dilakukan slam waktu beberapa bulan, sehingga data yang didapat akan lebih mendetail penurunan dan kenaikan kerugian daya yang terjadi. Maka data yang diperoleh akan lebih efektif.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsami. 1996. Prosedur Penelitian.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Arismunandar. A. dan Kuwahara. S. 1993. Buku
Pegangan Teknik Tenaga Listrik. Jakarta : Pradnya Paramita.
Hutauruk. T.S. 1985. Transmisi Daya Listrik. Jakarta : Erlangga.
Kadir, Abdul. 1998. Transmisi Tenaga Listrik. Jakarta : Universitas Indonesia-Press.
Moersaleh. H dan Musanef. 1992. Pedoman Membuat Skipsi. Jakarta : CV. Haji Masagung.
Seminar Nasional. 2005. Peranan SUTET 500 kVDalam Menjamin Suplai Listrik Jawa- Madura-Bali Serta Berbagai Aspeknya. Yogyakarta : UGM.
Sulasno. 1993. Analisa Sistem Tenaga Listrik. Semarang : Satya Wacana.
William. D. dan Stevenson. Jr. 1990. Analisis Sistem Tenaga Listrik. Bandung : Erlangga.
Zuhal. 1998. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

BIOGRAFI
Hernawan Sujatmiko, Pendidikan terakhir S1 Teknik Elektro Unnes.

Hamzah Berahim, Dosen Teknik Elektro UGM. Ngadirin, Dosen Teknik Elektro UNNES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar