Angga Ardhya
Teknik Elektro Universitas
Gunadarma
Email : angga.agai169@gmail.com
ABSTRAKSI
Di Indonesia, kebutuhan akan daya
listrik berbanding lurus dengan perkembangan ekonomi dan industri yang semakin
berkembang. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih baik dalam memberikan
pelayanan listrik dengan SUTET 500 kV. Dalam pendistribusian daya listrik dari
generator ke beban pusat menggunakan
jalur transmisi, karena jarak dari generator ke beban pusat sangat jauh. Daya
listrik yang mengalir mempunyai rugi-rugi daya. Itu disebabkan oleh factor
kebocoran isolasi dan kebocoran korona mengakibatkan voltase akan menurun
(jatuh tegangan) dan untuk efisiensi transmisi akan menurun juga. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menghitung rugi-rugi daya di SUTET 500 kV.
Perhitungan ini sudah dilakukan tiga kali dalam waktu berbeda di SUTET Ungaran
– Pedan pada 15- 24 agustus 2007 pukul 07.00 pagi , 13.00 siang, dan 18.00
sore. Hasil dari perhitungan pada hari rabu 15 agustus 2007 pukul 18.00 sore,
memiliki nilai rugi-rugi daya yang sangat besar yaitu 6.179.710,62 Watt dan
rugi-rugi daya yang sangat kecil ketika selesai pada hari rabu 15 agustus 2007
pukul 07.00 pagi dan hari rabu 22 agustus 2007 pukul 07.00 pagi, sebesar
2.816.691,632 Watt. SUTET 500 kV Ungaran – Pedan nilai efisiensinya dalam
kondisi bagus karena nilai rata-ratanya
sekitar 100%. Namun, ada kekurangan dari hasil karena perhitungan hanya
dilakukan dalam sepuluh hari. Cara terbaik untuk mengurangi kekurangan itu
adalah dengan melakukan perhitungan secara terus menerus.
Kata
kunci : Rugi-rugi Daya, Jatuh Tegangan, Korona
I.
PENDAHULUAN
Dalam
menghadapi permintaan akan kebutuhan tenaga listrik yang terus meningkat sesuai
laju pertumbuhan ekonomi dan industri serta pertambahan penduduk, semua sector
pembangunan diarahkan untuk mampu menghadapi era industrialisasi. Berbagai
investasi dalam bidang industri saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak
swasta dan pemerintah. Untuk mengatasi kebutuhan tenaga listrik untuk industri tersebut, pihak pemerintah
juga sudah memikirkannya. Oleh sebab itu, ketersediaan energy listrik yang
cukup dan berkualitas merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh PLN.
Berdasarkan
dari hal diatas maka penulis mencoba melakukan studi tentang kerugian daya yang
terjadi pada SUTET single circuit Ungaran – Pedan, sehingga dapat memberi
gambaran kerugian yang terjadi pada SUTET dengan cara perhitungan besar rugi
daya pada SUTET, sehingga nantinya dapat berguna dalam sistem transmisi tenaga
listrik terutama pada SUTET.
Permasalahan
pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
i.
Besar jatuh tegangan yang terjadi pada
SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
ii.
Besar kerugian daya yang terjadi pada
SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
iii.
Besar korona yang terjadi pada SUTET 500
kV Ungaran – Pedan.
iv.
Besar efisiensi SUTET 500 kV Ungaran –
Pedan.
Adapun tujuan penelitian sebagai berikut
:
a. Mengetahui
jatuh tegangan pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
b. Mengetahui
kerugian daya pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
c. Mengetahui
besar rugi korona pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
d. Mengetahui
efisiensi SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
II.
LANDASAN
TEORI
2.1. Umum
Menaikkan daya guna
saluran transmisi adalah dengan menaikkan tegangan setinggi – tinggi
mungkin. Batas ketinggian tegangan
transmisi pada masing – masing negara berbeda - beda tergantung pada kemajuan
teknologi tenaga listrik di negara – negara tersebut. Transmisi tegangan tinggi
Indonesia pada saat ini adalah tegangan 70 kV dan 150 kV, sedangkan untuk
transmisi tegangan ekstra tinggi menerapkan tegangan 500 kV.
Ada dua kategori saluran transmisi, yaitu
saluran udara (overhead line) dan saluran bawah tanah (underground). Saluran
udara menyalurkan tenaga listrik melalui kawat – kawat yang digantung pada
tiang – tiang transmisi dengan perantara isolator – isolator, sedang saluran
bawah tanah menyalurkan listrik melalui kabel – kabel bawah tanah. Kedua
saluran ini mempunyai keuntungan dan kerugian, dibandingkan dengan saluran
udara, saluran bawah tanah tidak terpengaruh cuaca buruk dan saluran bawah
tanah lebih estetis karena tidak tampak. Saluran bawah tanah lebih disukai di
Indonesia terutama untuk kota – kota besar, tetapi biaya pembangunannya lebih
mahal dibandingkan dengan saluran udara dan perbaikannya lebih sukar jika
terjadi hubung singkat.
Peningkatan
tegangan pada saluran transmisi mempunyai nilai ekonomis yang sangat penting,
keuntungannya sebagai berikut:
a) Penyaluran
daya yang sama arus yang dialirkan menjadi berkurang, ini berarti penggunaan
bahan tembaga pada kawat penghantar akan berkurang dengan bertambah tingginya
tegangan transmisi.
b) Luas
penampang konduktor yang digunakan berkurang karena itu struktur penyangga
konduktor lebih kecil.
c) Arus
yang mengalir di saluran transmisi menjadi lebih kecil maka jatuh tegangan juga
menjadi kecil. Tegangan transmisi yang semakin besar maka jarak bebas antar
kawat penghantar harus lebih lebar. Panjang gandengan isolator harus lebih
besar dan berarti meningkatkan biaya menara dan konstruksi penopang.
1. Resistan
Nilai resistan saluran
transmisi dipengaruhi oleh resitivitas konduktor dan temperature. Resistan (R)
dari sebuah penghantar sebanding dengan panjang l dan berbanding terbalik
dengan luas penampangnya.
(2.2)
(William
D. Stevenson, 1990 : 39)
dengan :
ρ = Resitivitasnya (_)
R = Resistan arus searah (_m)
l = Panjang Konduktor (m)
A = Luas Penampang (m²)
2. Induktan Saluran
Induktan
kawat tiga fasa umumnya berlainan untuk masing – masing kawat. Namun karena
perbedaannya kecil nilai induktannya dari penghantar yang ditransposisikan yang
diambil, bila ketidakseimbangannya tidak besar. Susunan kawat seperti tertera
pada gambar 2.1. reaktan induktif urutan positif (positive sequence inductive
reactance) dari saluran yang ditransposisikan dinyatakan oleh W. A. Lewis
sebagai XL
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993 : 53)
dengan
:
f
= Frekuensi
GMD
= Geometric mean distance =
GMR
= Geometric mean radius =
K
= Konstanta
Induktannya dapat dihitung :
L
= l + 0,4605 log10
(Arismunandar
dan Kuwahara,1993 : 53)
dengan :
l = Induktansi karena fluks magnet dalam kawat =
0,05 untuk kawat dengan penampang bulat (μ = 1)
3. GMR, GMD
Radius rata-rata geometris (GMR) dari suatu luas
ialah limit dari jarak rata-rata geometris (GMD) antara pasangan elemen dalam
suatu luas itu sendiri bila jumlah elemen itu diperbesar sampai tak terhingga.
a. Teori GUYE
Pada suatu lingkaran
dengan radius r terdapat n titik yang jaraknya satu sama lain sama besar maka
GMD antara titiktitik adalah :
GMD
= rn−1 Ön
Jarak-jarak bersama
antara pasangan-pasangan titik itu adalah sama dengan n x (n-1) jarak-jarak,
dan hasil perkalian dari semua jark-jarak itu adalah sama dengan pangkat n(n -
1) dari GMD-nya.
b. GMD dari suatu titik terhadap
lingkaran adalah jarak dari titik itu terhadap pusat lingkaran.
c. GMD dari dua lingkaran dengan jarak
titik-titik pusatnya d12 adalah d12.
4. Kapasitan Saluran
Kapasitan
adalah kemampuan dua konduktor yang dipisahkan oleh isolator untuk menyimpan
muatan listrik pada tegangan yang diberikan diantara keduanya. Bila pada dua
konduktor yang terpisah oleh jarak tertentu dialirkan arus listrik maka akan
terbentuk fluks elektrostatik dan dua konduktor tersebut berfungsi sebagai
kapasitor. Nilai kapasitasnya semata-mata tergantung dari jari-jari konduktor
dan jarak antara kedua konduktor tersebut serta tidak dipengaruhi oleh besarnya
medan magnet. Rumus untuk menentukan kapasitas saluran adalah :
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993: 55)
dengan
:
C
= kapasitas
GMD
= geometri mean distance (cm)
r
= jari-jari penghantar
5. Jatuh Tegangan
Jatuh
tegangan pada saluran transmisi adalah selisih antara tegangan pada pangkal
pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan (receiving end)
tenaga listrik. Pada saluran bolak balik besarnya tergantung pada impedan dan
admitansi saluran serta pada beban dan faktor daya. Jatuh tegangan relative
dinamakan regulasi tegangan (voltage regulation), dan dinyatakan oleh rumus:
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993 : 2)
dengan
:
s
V = Tegangan pada pangkal pengiriman
r
V = Tegangan pada ujung penerimaan
6. Hilang Daya Dan Daya Guna Transmisi
Hilang daya atau rugi daya utama pada
saluran transmisi adalah hilangdaya resistan pada penghantar. Disamping itu ada
hilang daya korona dan hilang daya karena kebocoran isolator terutama pada
saluran tegangan tinggi. Pada saluran bawah tanah ada hilang daya elektrik dan
hilang daya pada saluran kabel (sheath). Hilang daya resistan untuk saluran
tiga fasa tiga kawat untuk saluran transmisi yang pendek dinyatakan oleh
persamaan:
P1
= 3I2Rl
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993 : 3)
Hilang
Korona
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993:57)
dengan:
E’go
= 21,1 kV/cm
A
= 0,448 untuk kawat padat dan 0,375 untuk kawat lilitan
f
= frekuensi sumber tenaga (Hz)
r
= jari-jari penghantar (cm)
m
= mo x m1
mo
= faktor permukaan kawat, untuk kawat lilitan = 0,83 – 0,87
mI
= faktor udara, untuk udara baik 1,0 dan untuk hujan 0,8
δ
= kepadatan udara relative =
D
= jarak ekivalen antar kawat (cm)
7. Karakteristik Penyaluran Daya
Tenaga listrik
disalurkan melalui jaringan transmisi dari pusat pembangkit yang disebut
pangkal pengiriman menuju pusat-pusat beban yang disebut ujung penerimaan.
Meskipun tenaga listrik disalurkan dengan sistem tiga fasa tetapi semua perhitungan
dilakukan berdasarkan hubungan satu fasa sistem bintang. Dalam mempelajari
karakteristik penyaluran daya yang meliputi variabel-variabel tegangan, arus,
dan hilang daya dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yang berbeda
yaitu:
a. Rangkaian
yang parameter atau konstankonstannya dikonsentrasikan (lumped), pendekatan ini
digunakan untuk analisis saluran transmisi jarak pendek.
b. Rangkaian
yang parameter atau konstankonstannya didistribusikan sepanjang saluran
transmisi.
Beberapa
perhitungan penting untuk analisis sistem transmisi adalah:
a. Menghitung
perbedaan besaran antara tegangan pada pangkal pengiriman (Vs) dengan tegangan
pada ujung penerimaan (Vr).
b. Menghitung
faktor daya pada pangkal pengiriman dan ujung penerimaan.
c. Menghitung
daya guna transmisi (daya keluar/ daya masuk)
8. Konduktor Berkas
Tegangan
ekstra tinggi yaitu tegangan diatas 230 kV, korona dengan akibatnya yaitu
berupa rugi daya dan terutama timbulnyainterferensi dengan saluran komunikasi
akanmenjadi sangat berlebihan jika rangkaiannya hanya mempunyai sebuah
komunikasi dan hanya mempunyai sebuah penghantar perfasa. Dengan menggunakan
dua penghantar atau lebih perfasa yang disusunberdekatan dibandingkan dengan
jarak pemisah antara fasa-fasanya, maka gradient tegangan tinggi pada
penghantar dalam daerah EHV dapat banyak dikurangi. Saluransemacam ini
dikatakan sebagai tersusun dari penghantar berkas (bundled conductors).Berkas
ini dapat terdiri dari dua, tiga, atau empat penghantar. Berkas tiga penghantar
biasanya menempatkan penghantarpenghantarnya pada sudut-sudut suatu segi tiga
sama sisi dan berkas empat penghantar menempatkan penghantar-penghantarnya pada
sudut-sudut suatu bujur sangkar. Arus tidak akan terbagi rata dengan tepat
antara penghantar-penghantar dalam berkas jika tidak dilakukan transposisi
penghantarpenghantar dalam berkas tetapi perbedaannya tidak begitu penting
dalam praktek, metode GMD sudah cukup telitiuntuk perhitungan-perhitungan.
Keuntungan lain yang sama pentingnya yang diperoleh dari pemberkasan ialah penurunan
reaktan. Peningkatan jumla penghantar dalam suatu berkas mengurangi efek korona
dan mengurangi efek reaktan. Pengurangan reaktan disebabkan oleh kenaikan GMR
berkas yang bersangkutan. Perhitungan GMR sudah tentu tepat sama dengan
perhitungan untuk penghantarberupa lilitan. Masing-masing penghantar pada
berkas dua penghantar misalnya dapat diperlakukan sebagai sebuah serat atau
lilitan suatu penghantar dua lilitan.
2.2.
Kerangka Berfikir
Saluran transmisi
tegangan ekstra tinggi banyak mengalami kerugian daya yang diakibatkan oleh
beberapa faktor misalnya kerugian daya yang diakibatkan oleh korona atau
residen penghantarnya sehingga mengakibatkan tegangan mengalami penurunan,
tegangan pada pangkal pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan
(receiving end) mengalami perbedaan nilainya, karena sebagian daya yang ada
hilang yang diakibatkan oleh factor – faktor diatas. Dalam skripsi ini akan
dicari kerugian daya yang terjadi pada saluran transmisi tegangan ekstra tinggi
dengan cara menghitung reistan total, reaktan saluran, impedan, faktor daya,
besar tegangan pada pangkal pengiriman, besar tegangan pada ujung penerimaan,
rugi daya, daya pengiriman serta efisiensi transmisi
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.
Lokasi Penelitian
Lokasi : P.T. PLN (Persero)
Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa Bali Regional Jawa Tengah dan DIY
Unit Pelayanan Transmisi Semarang. Waktu : 15 Agustus – 24 Agustus 2007
3.2.
Jenis Penelitian
Dalam menyusun suatu
penelitian diperlukan langkah-langkah yang benar sesuai dengan tujuan
penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
observasi. Observasi yang dilakukan adalah dengan pengambilan data dilapangan..
3.3.
Populasi
Populasi adalah seluruh
obyek yang dimaksudkan untuk diselidiki, dimana obyek tersebut setidak-tidaknya
memiliki satu kesamaan sifat. Populasi dalam penelitian ini adalah Kerugian
Daya Pada SUTET 500 kV Ungaran – Pedan.
3.4.
Sampel
Sampel merupakan
sebagian dari seluruh populasi yang ingin mewakili seluruh populasi. Syarat umum
pengambilan sample adalah representatif, dimana sampel yang diambil
menggambarkan keadaan sebenarnya dari populasi yang ada. Teknik sampling dalam
penelitian in merupakan gabungan dari :
1.
Purposive Sampling
Dalam
purposive sampling pemilihan sekelompok obyek penelitian atau sampel didasarkan
pada ciri-ciri atau tujuan tertentu yang dipandang mempunya sangkut paut yang
erat dengan ciriciridari populasi yang diketahui sebelumnya. Adapun pemilihan
sampel purposive sampling didasarkan sampel yang dipilih mempunyai latar
belakang dalam kondisi yang sama.
2.
Random Sampling
Dalam random sampling
yang baik secara individu maupun secara bersama-sama setiap populasi diberi
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Jadi teknik sampling yang
digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling.
3.5.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian
adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian
(Suharsimi Arikunto, 1992 : 99). Dalam penelitian ini yang menjadi obyek atau
variable penelitiannya adalah pengamatan terhadap rugi daya pada saluran
transmisi tegangan ekstra tinggi.
3.6.
Sumber Data
Data-data
yang diperlukan dalam proses pembuatan laporan ini diperoleh dari:
1.
Observasi
Penulis mengamati
secara langsung ditempat operator dan mencatat data-data yang diperlukan untuk
dianalisa.
2.
Wawancara
Metode ini dilakukan
dengan cara menanyakan hal-hal yang sekiraya belum penulis ketahui kepada
pembimbing lapangan.
3.
Studi Pustaka
Metode ini dilakukan
dengan membaca buku-buku dan mencari data yang diperlukan mengenai halhal atau
materi yang dianalisa.
4.
Bimbingan
Metode ini dilakukan
dengan cara meminta bimbingan untuk hal yang berkaitan dengan analisa dari
penelitian ini dari pembimbing, baik dosen maupun dilapangan.
3.7.
Teknik Analisis Data
Analisa data merupakan
salah satu langkah penting dalam penelitian, terutama bila digunakan sebagai
generalisasi atau simpulan tentang masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini
bersifat deskriptif maka analisis data yang digunakan adalah analisis
deskriptif percentase. Analisis data ini digunakan untuk deskripsi atau
pembahasan hasil penelitian berupa data kuantitatif sehingga akan diperole
gambaran kualitatif dari hasil penelitian.
3.8. Analisis Perhitungan Daya
Menghitung kerugian
daya yang terjadi pada penghantar harus dicari dulu nilai resistannya. Rumus
yang digunakan utnuk mencari resistan adalah menggunakan persamaan (2.2)
sebagai berikut :
Nilai
reaktan dapat dicari setelah nilai resistannya diketahui, untuk menghitung
nilai reaktan adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
(William
D Stevenson, 1990 : 59)
Nilai
GMD (Geometric Mean Distance atau jarak rata-rata geometris) dan nilai GMR (Geometric
Mean Radius atau radius ratarata geometris), dapat dicari dengan menggunakan
rumus dibawah ini :
(Hutauruk,
1985 : 45)
untuk
menghitung GMR adalah menggunakan persamaan (2.30) sebagai berikut.
Saluran
transmisi Ungaran – Pedan adalah merupakan saluran transmisi jarak pendek yaitu
kurang dari 80 km, sehingga untuk mencari impedannya menggunakan persamaan
(2.17) sebagai berikut :
Z
= R + jX
Data-data
hasil perhitungan diatas digunakan untuk menghitung besar tegangan pada ujung
beban dan tegangan pengiriman, besar jatuh tegangan, rugi daya pada kawat
penghantar, daya pengiriman serta efisiensi transmisi. Rumus-rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut :
a. Mencari
faktor daya :
Dan
(William
D Stevenson, 1990 : 17)
dengan :
P = Daya aktif (Watt)
S = Daya semu (Watt)
Q = Daya rekatif (VAR)
cos φ = Faktor daya
b. Menghitung
besar tegangan pada ujung beban adalah :
(Hutauruk,
1985 : 64)
dengan
Vr = Tegangan
penerimaan (Volt)
Vrline = Tegangan kerja
(Volt)
c. Mencari
tegangan pengiriman adalah :
(Hutauruk,
1985 : 64)
dengan
Vs = Tegangan
pengiriman
Vr = Tegangan
penerimaan
I = Arus (Ampere)
Z = Impedan (Ohm)
d. Mencari
besar jatuh tegangan adalah :
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993 : 2)
Dengan
Vs = Tegangan pengiriman
Vr = Tegangan
penerimaan
e. Mencari
rugi daya pada kawat penghantar menggunakan persamaan (2.11) sebagai berikut :
P
resistan = 3. I2. R
f.
Mencari rugi korona menggunakan
persamaan (2.13) sebagai berikut :
Dengan
f = frekuensi (Hz)
0 'g E = 21,1 kV/cm
A = 0,448 untuk kawat
padat dan
0,375 untuk kawat lilit
m = m0 . m1
δ = Kepadatan udara
relatif
r = jari-jari
penghantar
g E = Gradien tegangan
g. Rugi
daya total
Prugi
= P resistan + P korona
h. Mencari
daya pengiriman adalah :
Ps
= Pr + Prugi
(Arismunandar
dan Kuwahara, 1993 : 62)
dengan
Ps = Daya pengiriman
Pr = Daya penerimaan
Prugi = Rugi daya pada
kawat penghantar (Watt)
i.
Mencari efisiensi transmisi dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut.
IV.
HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
1.1 Data-Data Dari Saluran Transmisi
Yang Melalui Daerah Ungaran-Pedan Tanggal 15 Agustus 2007 Jam 07.00
R
(resistan per fasa): 0,0880 ohm/km
D
(jarak antar saluran): 11 m
l
(panjang saluran) : 75,31 km
A(luas
penampang) : 327,94mm2
Pr
(daya penerimaan) : 140 MW
Q
(daya rekatif) : 160 MVAR
Vrline
: 517 KV
I
(arus line) : 267 A
D
(Jarak ekivalen antar kawat) : 1100 cm
b
(Tekanan udara): mbar = 758,31 mmHg
t
(Suhu udara)
r
(Jari-jari kawat satu konduktor) : 1,02 cm
f
(Frekuensi sumber tenaga): 60 Hz
E
(Tegangan fasa) : 517 KV
Faktor udara m1 adalah
1,0 untuk udara baik dan 0,8 untuk hujan. Faktor permukaan kawat m0 untuk
kondisi permukaan kawat halus adalah 1,0 untuk kawat lilit adalah 0,83 – 0,87.
4.2 Analisis Rugi Daya
a. Resistan
total :
Rtotal
= R x l
= 0,0880 x 75,31
= 6,6272 ohm
b.
Mencari nilai reaktan adalah tetapi
harus dicari lebih dahulu nilai GMD dan mencari nilai GMR.
e.
GMR = penghantar yang digunakan adalah
jenis DOVE jadi Ds = 0,0314 kaki, untuk mengubahnya jadi meter maka harus
dikalikan dengan 0,3048.
f.
g.
h. Xtotal
= 0,308 x 75,31
=23,1954
0hm
i.
Impedan Pada saluran transmisi Ungaran –
Pedan adalah merupakan saluran transmisi jarak pendek yaitu kurang dari 80 km
sehingga pengaruh kapasitansinya sangat kecil dan bisa diabaikan, nilai
impedannya adalah sebagai berikut.
j.
Mencari faktor daya adalah dengan cara
sebagai berikut.
Pr
= 140 Mwatt
Q
= 160 MVAR
Jadi
k.
Besar tegangan kerja adalah 517.000 Volt
sehingga tegangan penerimaan atau tegangan pada ujung beban dapat dihitung
l.
Mencari tegangan pengiriman
Vs
= Vr + IZ
=
298.490,0891 + 267 x 24,1235
=
304.931,0636 Volt
m. Mencari
besarnya jatuh tegangan
n. Rugi
daya pada kawat penghantar dapat dicari seperti dibawah ini
o. Presistansi
= 3. I2. R
=3 x 2672 x 6,6272 =
1.417.339,382 Watt
p. Rugi
Korona
Kepadatan udara relative
Gradient
tegangan pada permukaan kawat untuk saluran transmisi 3 fasa.
Rugi
korona
dengan
:
0
'g E = 21,1 kV/cm
A
= 0,448 untuk kawat padat dan 0,375 untuk kawat lilit
m
= m0 . m1
=
0,83 x 1,0
=
0,83
q.
Rugi
korona total
Ptotal
= P x l
=
18.582,36338 x 75,31
=
1.399.437,786 Watt
r.
Prugi = P resistan + P korona
=
1.417.339,382 + 1.399.437,786
=
2.756.777,168 Watt
s. Daya
pengiriman dapat dicari dengan) seperti dibawah ini.
Ps
= Pr + Prugi
=
140.000.000 + 2.756.777,168
=
142.756.777,168 Watt
t.
Efisiensi transmisi dapat dicari seperti
dibawah ini.
Jatuh tegangan yang
terjadi pada jam 07.00 WIB masih dikatakan kecil karena hanya 2,16 %. Hal ini disebabkan
karena jarak saluran pendek yaitu 75,31 km, sehingga besar resistan pada kawat
penghantar tidak begitu besar. Sedangkan efisiensi transmisi hampir mendekati
100 % yaitu 98,07 %, artinya kerugian daya yang terjadi yaitu sebesar
2.756.777,168 Watt masih dalam batas normal dan semua ini dipengaruhi oleh
besarnya arus dan resistan kawat penghantar yang tidak begitu besar.
Kerugian korona dalam
persen dari rugi daya.
Kerugian korona yang
terjadi pada Rabu, 15 Agustus 2007 jam 07.00 adalah 1.399.437,786 Watt
sedangkan kerugian daya yang terjadi adalah sebesar 2.756.777,168 Watt sehingga
kerugian daya yang diakibatkan oleh faktor korona adalah 50,76 %. Sedangkan
sisanya adalah kerugian yang diakibatkan oleh faktor lain misalnya rugi yang
diakibatkan oleh penghantar, factor alam, kekotoran isolator, dll.
Perhitungan dilakukan
sampai tanggal 24 Agustus 2007 pada 3 waktu tertentu, yaitu pada jam 07.00,
13.00 dan jam 18.00.
V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
analisis maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Jatuh
tegangan yang terjadi pada SUTET Ungaran – Pedan masih sangat kecil, karena
masih dibawah standarnya yaitu maksimal 5% untuk batas atas dan maksimal 10% untuk batas bawah.jatuh tegangan
pada hari rabu, 15 agustus 2007 jam 13.oo sebesar 3,68% dan pada hari jumat, 17
agustus 2007 jam 07.00 sebesar 1,64%.
2. Kerugian
daya pada penghantarnya untuk SUTET 500 kV Ungaran – Pedan masih sangat kecil,
jadi alat dan bahannya masih sangat baik. Kerugian daya terbesar pada hari
rabu, 15 agustus 2007 jam 18.00 sebesar 6.179.710,62 Watt dan kerugian daya
terkecil pada hari rabu, 15 agustus 2007 jam 07.00 sebesar 2.756.777,168 Watt.
3. Kerugian
korona paling besar terjadi pada hari selasa, 21 agustus 2007 dan hari jumat 24
agustus 2007 sebesar 1.440.538,31Watt, dan rugi korona terkecil pada hari jumat
17 agustus 2007 jam 07.00 sebesar 1.363.910,815 Watt.
4. Nilai
efisiensi SUTET 500 kV Ungaran – Pedan masih sangat baik yaitu mendekati 100%.
5.2. Saran
Saran yang dapat
diberikan penulis untuk penelitian SUTET 500 kV adalah sebagai berikut:
·
Dalam meneliti kerugian daya pada SUTET
500 kV sebaiknya pengambilan datanya dilakukan slam waktu beberapa bulan,
sehingga data yang didapat akan lebih mendetail penurunan dan kenaikan kerugian
daya yang terjadi. Maka data yang diperoleh akan lebih efektif.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsami. 1996. Prosedur
Penelitian.
Jakarta
: PT. Rineka Cipta.
Arismunandar. A. dan Kuwahara. S. 1993.
Buku
Pegangan
Teknik Tenaga Listrik. Jakarta : Pradnya Paramita.
http://www.iceweb.com.au/Technical/conversins/pressureconv.htm
(23/01/2008,09.16)
Hutauruk. T.S. 1985. Transmisi Daya Listrik. Jakarta
: Erlangga.
Kadir, Abdul. 1998. Transmisi Tenaga Listrik. Jakarta
: Universitas Indonesia-Press.
Moersaleh. H dan Musanef. 1992. Pedoman Membuat
Skipsi. Jakarta : CV. Haji Masagung.
Seminar Nasional. 2005. Peranan SUTET 500 kVDalam
Menjamin Suplai Listrik Jawa- Madura-Bali Serta Berbagai Aspeknya. Yogyakarta :
UGM.
Sulasno. 1993. Analisa Sistem Tenaga Listrik. Semarang
: Satya Wacana.
William. D. dan Stevenson. Jr. 1990. Analisis Sistem
Tenaga Listrik. Bandung : Erlangga.
Zuhal. 1998. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
BIOGRAFI
Hernawan Sujatmiko, Pendidikan terakhir
S1 Teknik Elektro Unnes.
Hamzah Berahim, Dosen Teknik Elektro
UGM. Ngadirin, Dosen Teknik Elektro UNNES




































Tidak ada komentar:
Posting Komentar