Sabtu, 13 Desember 2014

PENDUDUK DAN TINGKAT PENDIDIKAN



7,2 Juta Penduduk Indonesia Hidup Menganggur




Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 tercatat sebanyak 7,2 juta orang. Untuk periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia cenderung menurun dari 6,32% menjadi 5,92% pada Februari 2013.

Sebagai informasi, jumlah angkatan kerja di Indonesia hingga Februari 2013 sebanyak 121,2 juta jiwa, bertambah 3,1 juta jiwa.

Dikutip dari data BPS, Senin (6/5/2013), pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2013 banyak terjadi pada masyarakat lulusan sekolah menengah atas (SMA). Tingkat pengangguran terbuka para lulusan SMA yang belum sempat bekerja ini mencapai 9,39%.

Dibandingkan periode sebelumnya, jumlah pengangguran yang merupakan lulusan SMA Ini senantiasa terus menurun. Pada Februari 2012, TPT dari lulusan SMA mencapai  10,34% dan menuruna menjadi 9,6% pada Agustus 2012.

BPS melaporkan, TPT tertinggi kedua berasal dari masyarakay lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencapai 8,24%. Berbeda dengan lulusan tingkat sekolah lain yang umumnya cenderung menurun, jumlah TPT lulusan SMP justru meningkat dari sebelumnya 7,76% pada Agustus 2012.

"JIka dibandingkan keadaan Agustus 2012, TPT pada semua tingkat pendidikan mengalami penurunan kecuali pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama," ujar paparan BPS.

Tak hanya lulusan SMS dan SMA, pengangguran juga dialami masyarakat Indonesia lulusan diploma dan universitas. Tercatat TPT lulusan diploma mencapai 5,65%.

Nasib lebih baik dialami masyarakat lulusan universitas yang mencatat TPT sebesar 5,04%, lebih baik baik sebelumnya 5,91% pada Agustus 2012. (Pew/Shd) .

Dilihat dari definisinya, Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat  akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan  dan masalah-masalah social  lainnya.
Berdasarkan penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan menjadi 9 macam:
  • Pengangguran friksional (frictional unemployment) adalah pengangguran karena pekerja menunggu pekerjaan yang lebih baik.
  • Pengangguran struktural (Structural unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
  • Pengangguran teknologi (Technology unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi. Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang diterapkan.
  • Pengangguran kiknikal adalah pengangguran yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu menampung semua pekerja yang ada. Contoh penyebabnya, karena adanya perusahaan lain sejenis yang beroperasi atau daya beli produk oleh masyarakat menurun.
  • Pengangguran musiman adalah pengangguran akibat siklus ekonomi yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang pertanian dan perikanan. Contohnya adalah para petani dan nelayan.
  • Pengangguran setengah menganggur adalah pengangguran di saat pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari).
  • Pengangguran keahlian adalah pengangguran yang disebabkan karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian. Pengangguran jenis ini disebut juga pengangguran tidak kentara dikarenakan mempunyai aktivitas berdasarkan keahliannya tetapi tidak menerima uang. Contohnya adalah anak sekolah (siswa) atau mahasiswa. Mereka adalah ahli pencari ilmu, tetapi mereka tidak menghasilkan uang dan justru harus mengeluarkan uang atau biaya, misalnya harus membeli paket buku LKS atau membayar biaya kursus yang diselenggarakan oleh sekolahnya sendiri. Contoh lainnya adalah (misalnya) seorang pelatih pencak silat yang tidak meminta gaji dari organisasinya. Pengangguran tidak kentara ini, juga bisa disebut sebagai pengangguran terselubung.
  • Pengangguran total adalah pengangguran yang benar-benar tidak mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.
  • Pengangguran unik adalah pekerja yang menerima gaji secara rutin tanpa pemotongan, tetapi di tempat kerjanya hanya sering diisi dengan bercerita sesama pekerja karena minimnya pekerjaan yang harus dikerjakan. Hal ini disebabkan karena tempat kerjanya kelebihan tenaga kerja. Pengecualian untuk pegawai atau petugas pemadam kebakaran atau penanggulangan bencana alam. Pegawai atau petugas seperti demikian tenaganya harus disimpan dan dipersiapkan secara khusus jika ada pelatihan atau simulasi atau harus diterjunkan pada situasi sebenarnya.
Dapat disimpulkan bahwa, penyebab pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu proses pembangunan.
Jadi untuk mencegah terjadinya pengangguran yang menjamur dan semakin banyak, perlu adanya peningkatan mutu pendidikan yang baik dan memadai untuk semua masyarakat baik yang golongan atas, golongan menengah, maupun golongan bawah. Dan juga perlu tersedianya lapangan kerja yang banyak dan memadai, agar seluruh masyarakat akan terhindari oleh penyakit pengangguran ini. Selain dapat dapat mensejahterakan masyarakat, hal ini dapat pula menekan tingkat kebutaan masyarakat dari ilmu pengetahuan, dan juga dapat dijadikan sebagai tiang yang kokoh akan Negara yang berpendidikan, kuat, mandiri, dan maju. Karena Negara yang maju adalah Negara yang memiliki masyarakat yang berpendidikan baik dan berguna untuk masyarakat, terlebih dalam hail ini masyarakat dapat berguna dalam menjaga dan menegakkan kehormatan Negara terhadap Negara tetangga maupun global.


REFERENSI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar