1921, ketika teknologi masih merangkak menuju
modernisasi, ketika manusia masih nyari jati diri, dan ketika dunia masih
carut-marut karena perang, muncul sebuah motor yang menang adu lari
berkecepatan rata-rata 100 mil/jam (setara 160 km/jam). Pertama dalam sejarah.
Mau tahu motor apa? Tentu Harley-Davidson (H-D).
Sejak saat itu, kuda besi yang lahir di Milwaukee-AS tersebut selalu menggores
rekor. Di dunia balap, H-D cukup disegani, meski balapan yang diikuti kurang
populer dan cuma dihelat di beberapa kawasan negeri Paman Sam.
Kejayaan di trek balap itu berlanjut sampai
sekarang. Hingga musim balap 2011 lalu pada NHRA Powerade Pro Stock Motorcycle
Championship, tim Screamin’ Eagle/Vance & Hines Harley-Davidson dipandang
sebagai momok seram. Hingga seri balap berakhir, dua pebalap mereka, Eddie
Krawiec dan Andrew Hines berada di posisi 1-2.
Yap, balapan adalah simbol kejayaan sebuah pabrikan
sampai sekarang. Apalagi, H-D adalah salah satu pabrikan pelopor di dunia,
membuatnya harus bersaing merebut pasar di antara sekitar 150 pabrikan lain
pada 1911.
MENANG
SEJAK AWAL
Indikasi H-D jadi kampiun sudah muncul di awal
pabrikan ini dibangun. Pada 1908, Walter Davidson, presiden dan co-founder
Harley-Davidson, menunggangi H-D bermesin satu silinder dan memenangi event
yang diselenggarakan Federation of American Motorcyclist.
Itu adalah kontes kekuatan dan ketahanan motor di Held
Arena Dirt Road, Catskill Mountains, New York. Di antara 65 kompetitor pada
lomba dua hari full dengan jarak lebih dari 365 mil itu, tak satu pun yang
sanggup menandingi performa semanis Davidson. Dia dan mesinnya menjadi
satu-satunya elemen yang mencetak nilai sempurna.
Beberapa tahun kemudian, Harley-Davidson menambah
kecepatan lewat berbagai setting kendaraan. Sebuah rekor baru tengah dikejar di
Bakersfield Road Race, California, 1912. Ajang itu adalah tes ketahanan di atas
trek berlumpur yang paling popular di zamannya.
Bisa ditebak, Wrecking Crew (sebutan untuk tim dan
pebalap Harley-Davidson) saat itu benar-benar untouchable! Melaju sendirian
tanpa tandingan. Tapi gara-gara Perang Dunia I, lomba tertunda, dan pada 1920,
tim H-D kembali di lingkaran kemenangan.
Setelah H-D mampu memenangi Daytona, balapan
terpopuler di AS pada 1969, program promosi lewat ajang adu kecepatan mulai
menemui jalan buntu. Saat itu, perusahaan mengalami kesulitan finansial.
Beberapa saat kemudian, support untuk tim sudah tak lagi mengalir. Akhirnya,
Harley-Davidson say good bye untuk balapan yang ikut andil membesarkan namanya
pada 1973.
KEBANGKITAN
TIM LEGENDARIS
Pada 1994, Harley-Davidson comeback ke top level
untuk professional road racing mengandalkan VR 1000 Superbike Race Team.
Sembari putar memori ketika tampil garang selama bertahun-tahun di arena balap,
kemenangan demi kemenangan kembali direngkuh.
Namun, tak berapa lama, VR 1000 dirasa tak
kompetitif dalam ajang seri balap AMA Superbike. Gerak cepat, perusahaan
menyiapkan pengganti. VR 1000 Superbike racing program diselamatkan oleh
teknologi terbaru. liquid-cooling dan electronic fuel injection dijadikan
teknologi andalan. Lahirlah VRSCA V-Rod, yang hingga sekarang masih dipakai
sebagai gaco.
Pada 2002, Harley-Davidson me-launching tim
Screamin’ Eagle/Vance & Hines Pro Stock Motorcycle untuk mengikuti NHRA
POWERade Drag Racing Series, drag race professional Amerika. Menang
Harley-Davidson mampu melakukan lebih baik lagi dari
sekadar memenangi drag race yang hanya seperempat mil. Motor Harley-Davidson
juga mampu diajak lari kencang dalam dirt race. Tim Screamin’ Eagle AMA Ford
Quality Checked Flat Track dirancang juga untuk menang. Para Wrecking Crew
seperti Jared Mees dan Bryan Smith sudah mempersembahkan tempat tiga besar di
klasemen akhir pada 2006 lalu.
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali
diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada
tahun 1949. Pada saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa
balapan di tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin,
dan kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu
adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater, serta
350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan sepanjang
1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada akhir 1960-an,
motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil. Di tahun 1970-an motor
bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979,
Honda berusaha mengembalikan mesin 4 tak di kelas puncak dengan menurunkan
motor NR500, namun proyek ini gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih
kemenangan dengan motor 500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc
akhirnya dihapuskan. Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun
1984, tetapi kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia
ini akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari
kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan kelas
500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai 2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi 800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15 negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka. Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start) terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai 2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi 800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15 negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka. Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start) terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
Organisasi
dalam MotoGP
Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari
organisasi-organisasi yang terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang
tergabung dalam komisi Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain yang tergabung di komisi Grand Prix.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain yang tergabung di komisi Grand Prix.
Karier
Pembalap
Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang
turun di balap motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan
direkrut oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125cc, kelas 250cc,
kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125cc sendiri
berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau nasional di
negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di Jepang, ataupun
kejuaraan Eropa.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards, Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2 tak 500cc yang boleh digunakan.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards, Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2 tak 500cc yang boleh digunakan.
Spesifikasi
Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan
dibentuk oleh FIM sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk
dan mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan
perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP di tahun 2002, motor
bermesin 2 tak 500cc dan 4 tak 990cc dibolehkan untuk digunakan dalam balapan.
Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang mengungguli motor bermesin 2
tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari persaingan, dan musim-musim balap
selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak yang digunakan.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun 2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9 km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc (daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun 2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati, Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon, dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan 250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari 950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor MotoGP.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun 2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9 km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc (daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun 2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati, Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon, dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan 250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari 950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor MotoGP.
Spesifikasi
mesin
Konfigurasi: 4-silinder v (Kelas MotoGP), 2-silinder
(kelas 250 cc dan 125 cc).
Kapasitas: 800 cc (Kelas MotoGP), 600 cc (kelas Moto
2), 125 cc (kelas 125 cc).
Katup: 16-katup (MotoGP), 8-katup (250 cc, 125 cc).
Kerja katup: DOHC, 4-katup per silinder (MotoGP),
2-katup per silinder (250 cc, 125 cc).
Bahan bakar: Tanpa timbal (tidak ada bahan bakar
kontrol), 100 oktan.
Pasokan bahan bakar: Injeksi bahan bakar.
Aspirasi: Aspirasi normal.
Kekuatan: Kira - kira 250 atau 225 dk.
Pelumasan: Basah.
Maksimum/minimum putaran mesin: 17500 - 18000 Rotasi
per menit.
Pendingin: Pompa air tunggal.
Perubahan
regulasi terbaru
Pada tahun 2005, sebuah peraturan baru untuk MotoGP
telah diberlakukan yaitu flag-to-flag. Sebelumnya, jika sebuah balapan dimulai
dengan start dalam kondisi sirkuit kering dan hujan turun, pembalap terdepan
dapat mengangkat tangan untuk menghentikan lomba, demikian juga dengan para
ofisial mengibarkan bendera merah untuk menghentikan balapan, kemudian balapan
dimulai lagi dengan menggunakan ban basah. Sekarang jika hujan turun saat
balapan tidak ada lagi bendera merah, para pembalap langsung menuju pit untuk
mengganti ban sesuai kebijakan tim.
Pada tahun 2007, kelas MotoGP diturunkan kapasitas mesinnya, menjadi 800cc.
Pada tahun 2010, kelas MotoGP diberlakukan pembatasan mesin 6 mesin untuk 1 musim.
Pada tahun 2010, kelas 250cc digantikan kelas moto2 dengan mesin prototipe 4 tak 600cc.
Pada tahun 2007, kelas MotoGP diturunkan kapasitas mesinnya, menjadi 800cc.
Pada tahun 2010, kelas MotoGP diberlakukan pembatasan mesin 6 mesin untuk 1 musim.
Pada tahun 2010, kelas 250cc digantikan kelas moto2 dengan mesin prototipe 4 tak 600cc.
REFERENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar